my self

my self

Selasa, 24 Juni 2014

Pengaruh Pola Asuh Orang tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak



MAKALAH
Pengaruh Pola Asuh Orang tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu:
Agustine Nurhayati, M.Pd.
Logo_universitas_muhammadiyah_gresik.png
Oleh:
Sururun Marfu’ah (13711014)

Universitas Muhammadiyah Gresik
Fakultas Psikologi
2014
Kata Pengantar
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam karya ilmiah ini kami akan membahas mengenai “Pola Asuh Orang tua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak”.
Karya Ilmiah ini telah dibuat dengan berbagai literatur dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, persepsi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun penulis. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Gresik, 5 Januari 2014           

Penulis                        





Daftar Isi

Kata Pengantar           ............................................................................................. 2
Daftar Isi         ......................................................................................................... 3
Bab I Pendahuluan     ............................................................................................. 4
            1.1 Latar Belakang      ................................................................................. 4
            1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 4
            1.3 Tujuan       ............................................................................................. 4
Bab II Pembahasan     ............................................................................................. 5
            2.1 Pengertian Kepribadian    ..................................................................... 5
            2.2 Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak  ..................... 6
            2.3 Pengertian Pola Asuh        ..................................................................... 8
            2.4 Macam-macam Pola Asuh            ......................................................... 9
            2.5 Pengaruh Pola Asuh Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak            ....... 10
Bab III Penutup          ........................................................................................... 15
            3.1 Kesimpulan           ............................................................................... 15
            3.2 Saran         ........................................................................................... 15
Daftar Pustaka                        ........................................................................................... 16


Bab I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya sukses dikemudian hari, baik dalam pendidikan, keluarga, dan ekonominya. Dan salah satu hal terpenting yang diinginkan oleh orang tua adalah keberhasilan kepribadiannya, oleh sebab itu mendidik anak dengan sebaik-baiknya diperlukan untuk membentuk pribadi anak yang baik. Seperti yang dikatakan Robert Fulghum “Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda”.
Pendidikan dalam keluarga yang baik dan benar, akan berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Kebutuhan yang diberikan melalui pola asuh orang tua akan memberikan kesempatan pada sianak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan sekitar.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kepribadian itu?
2.      Apa peran keluarga dalam pembentukan kepribadian anak?
3.      Apa pengertian dari pola asuh?
4.      Apa saja macam-macam pola pengasuhan itu?
5.      Bagaimana pengaruh pola asuh terhadap pembentukan kepribadian anak?
1.3  Tujuan
Untuk mendeskripsikan pengaruh pola asuh terhadap kepribadian anak, dan untuk mengetahui cara terbaik dalam mengasuh anak agar menjadi pribadi yang baik.




Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian Kepribadian
Kata kepribadian berasal dari kata Personallity yang berasal dari kata Persona yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, pribadi, atau watak seseorang. Hal itu dilakukan karena terdapat ciri-ciri khas yang hanya dimiliki oleh orang tersebut baik dalam arti kepribadian yang baik, maupun yang kurang baik. Misalnya, jika menggambar watak yang kurang baik, kasar, serakah dan yang lainnya dengan menggunakan gambar setan, sedangkan jika menggambarkan watak yang baik, suka menolong, berani berkorban, dan sebagainya menggunakan gambar ksatria.
Sementara ada pendapat bahwa sebenarnya manusia itu didalam kehidupan sehari-hari tidak selalu membawakan dirinya sebagaimana adanya, melainkan selalu menggunakan tutup muka, atau ciri-ciri khas yang supaya tindakannya bisa diterima oleh masyarakat.
Didalam kehidupan sehari-hari ditengah masyarakat, kebanyakan orang hanya akan menunjukkan keadaan yang baik-baik saja dan untuk itu maka dipakailah topeng atau persona itu. Dengan topeng itu kadang-kadang orang akan mendapatkan kedudukan, penghasilan, prestise yang lebih daripada bila tanpa topeng tsb. Sekalipun ia terpaksa harus bertindak, berbicara, atau berbuat yang bukan saja tidak sesuai dengan dirinya sendiri, melainkan kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan hakekat kepribadiannya sendiri.
Dalam masalah ini G.W. Allport, berpendapat:
           Personality is the dynamic organization within the individual of those psychopsysical system, that determines his unique adjusment to his environment. Artinya, Personality itu adalah suatu organisasi psikophysis yang dinamis daripada seseorang yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
May, berpendapat:
          Personality is a social stimulus value. Artinya, Personality itu merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi bagaimana cara orang lain itubereaksi terhadap kita, itulah kepribadian kita.
Dalam hal ini M. Prince berpendapat:
          Personality is the sum total of all the biological innatedisposition, impulses, tendencies, appetites, instinct of individual and the acquired dispositions and tendecies acquired by experience. Menurut Prince, disamping disposisi yang dibawa sejak lahir, berperan pula disposisi-disposisi psikis lainnya yang diperoleh dari pengalaman.
Dari pendapat-pendapat tsb. Akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a.       Personality itu merupakan suatu kebulatan.
b.      Kebulatan itu bersifat kompleks.
c.       Kompleksnya itu disebabkan oleh karena banyaknya faktor-faktor luar yang ikut menentukan kepribadian itu.
Dengan keterangan diatas, maka kepribadian dapat dirumuskan sebagai berikut:
  Kepribadian adalah suatu totalitas psikophisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak didalam tingkah lakunya yang unik.
2.2 Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak
Keluarga, yang menghadirkan anak kedunia ini, secara kodrat bertugas mendidik anak itu. Seluruh isi keluarga itu yang mula-mula mengisi pribadi sianak. Orang tua dengan secara tidak direncanakan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang dan pengaruh-pengaruh lain yang diterimanya dari masyarakat. Si anak menerima dengan daya peniruannya, dengan segala senang hati, sekalipun kadang-kadang ia tidak menyadari benar apa maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan itu, kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang diinginkan untuk dapat dilakukan anak, ditanamkan benar-benar, sehingga seakan-akan tidak boleh tidak dilakukan oleh sianak. Dengan demikian sianak akan membawa kemanapun juga pengaruh keluarga itu, sekalipun ia sudah mulai berpikir lebih jauh lagi. Makin besar sianak, pengaruh itu makin luas sampai akhirnya seluruh lingkungan hidupnya, apakah itu daerah pantai, pegunungan, lembah, ataupun hutan, akan mempengaruh seluruh kehidupan dan perilaku anak itu. Pengaruh itu tidak akan dapat hilang begitu saja, sekalipun pada waktu besarnya sianak telah meninggalkan lingkungan itu dan hidup di lingkungan yang lain.
Didalam hal ini, tentu peran ayah dan ibu sangat menentukan, justru mereka berdualah yang memegang tanggung jawab seluruh keluarga. Merekalah yang menentukan kemana keluarga itu akan dibawa, warna apa yang harus diberikan kepada keluarga itu, isi apa yang akan diberikan kedalam keluarga itu. Anak-anak sebelum dapat bertanggung jawab sendiri, masih sangat menggantungkan diri, masih meminta isi, bekal, cara bertindak terhadap sesuatu, cara berpikir, dan lain sebainya dari orang tua. Kebanyakan mereka meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. dengan demikian maka jelaslah betapa mutlaknya kedua orang tua itu harus bertindak sela-sekata, seazas, setujuan, seirama, dan bersam-sama terhadap anaknya. Perbedaan sedikit saja akan membuat sianak akan selalu ragu-ragu. Tetapi oleh karena ayah pada umumnya tidak lebih banyak berkumpul dengan anak-anak, oleh karena kewajibannya untuk mencari nafkah bagi keluarga, maka yang paling dekat dan punya banyak waktu dengan anak-anak adalah ibu. Si ibu yang mengandung, melahirkan, memberikan asi, si ibu yang mengasuh hampir setiap detik. Sepatutnyalah bahwa sebagian besar hidup anak itu bergantung kepada si ibu. Inilah sebabnya mengapa dikatan surga ada dibawahtelapak kaki ibu, yang artinya sebagian dari perilaku sianak adalah ditentukan oleh contoh dan perilakusi ibu.
Inilah mengapa orang jawa mengatakan bahwa: kacang, mangsa tinggala lanjaran. Yang artinya, tidak mungkin seorang anak tidak melakukan apa yang sejak kecil di contohkan oleh orangtuanya. Demikian pula  mengapa bangsa inggris mengatakan: you can take of thr country, but you can’t take the country out of the boy. Yang artinya, anak dapat lepas dari daerah kelahirannya tetapi daerah itu tidak akan dapat lepas dari sianak itu.
Sekalipun dalam perkembangannya, seorang anak dapat menyimpan pengaruh desa atau perilaku sesuatu daerah misalnya, namun pada saat-saat tertentu secara kurang disadari pengaruh daerah itu akan muncul dalam bentuk perbuatan ataupun dalam kata-katanya. Hal ini bukan berarti bahwa daerah itu selalu lebih baik daripada daerah yang lain.
Jadi dengan demikian dapat disadari betapa pentingnya peranan keluarga sebagai peletak dasar pola pembentukan kepribadian anak tersebut. Sedangkan lembaga pendidikan yang memberikan isi saja, untuk selanjutnya akan ditentukan sendiri bentuk dan warnanya oleh anak itu sendiri. Sesuai dengan kemampuan, kekuatan, dan kreasi sianak itu dalam pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lanjut.
2.3 Pengertian Pola Asuh
Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara, sedangkan asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik. Sehingga pola asuh berarti bentuk atau system dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau system yang diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi negatif atau positif.
Pengertian pola asuh dalam keluarga dapat ditelusuri dari pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995), yakni usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun).
Sugihartono dkk, (2007) mengatakan bahwa pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh juga dapat memberi perlindungan, dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari.

2.4 Macam-macam Pola Asuh
a. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistik terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Selain itu, orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak dilatih untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendri agar dapat berdisiplin.
b. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya diikuti dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini bersikap tegas, memaksa, memerintah, menghukum dan cenderung mengekang keinginan anak. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah membesarkannya. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Terlebih lagi orang tua tipe ini tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Hal ini dapat menyebabkan anak kurang inisiatif, cenderung ragu, dan mudah gugup. Oleh karena itu, anak yang sering mendapatkan hukuman menjadi tidak disiplin dan nakal.
c. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Orang tua memberikan kebebasan sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur dirinya. Biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja. Anak yang diasuh orang tuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.
2.5 Pengaruh Pola Asuh Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Anak prasekolah belajar dengan cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak  prasekolah belajar banyak dari perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.
Beberapa pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak:
a.      Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua pada anaknya pada masa kanak-kanak. Dasar-dasar tersebutlah yang akan dibawa sampai masa tua.
Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak untuk mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Di dalam keluarga untuk pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik.
Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda yang semuanya bekerja.
Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian lebih dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang ditinggal orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar orang tua untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh.
Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja cenderung bersifat manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih lanjut permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, baik dilingkungan sekolah dengan teman sebaya ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah. Anak suka mengganggu temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan hanya untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orang tua.
Sedangkan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pangawasan orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk bersikap mandiri.

b.      Pengaruh Pola Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih memperhatikan segala perubahan dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam berbicara ataupun dalam hal lain.
Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua kurang memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu kepribadian yang kurang baik.

c.       Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah Kebawah
Permasalahan ekonomi dalam keluarga merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia prasekolah yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan menjadi korban dari orang tua.
Dalam pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang tingkat perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua. Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anak.
Anak yang terbiasa dengan pola asuh yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang lebih rendah darinya.
Sedangkan pada orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang hidup dalam perekonomian menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami keluarga. Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu permasalahan.dan anak dapat menghargai usaha orang lain.
Pada kenyataannya terdapat juga anak yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang Pencipta.















Bab III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Keluarga, yang menghadirkan anak kedunia ini, secara kodrat bertugas mendidik anak itu. Seluruh isi keluarga itu yang mula-mula mengisi pribadi sianak. Orang tua dengan secara tidak direncanakan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang dan pengaruh-pengaruh lain yang diterimanya dari masyarakat. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.
3.2 Saran
Untuk dapat membentuk pribadi anak yang baik, maka pola pengasuhan serta pendidikan yang diberikan harus yang terbaik. Sehingga akan terbentuk anak dengan pribadi yang baik serta berkualitas.














Daftar Pustaka
Sujanto, Agus dkk. 2004. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayah, Nur. 2012. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pembentukan Kepribadian. http://diarynurhidayah.blogspot.com/2012/03/pengaruh-pola-asuh-orang-tua-terhadap.html.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar