MAKALAH
Pengaruh Pola
Asuh Orang tua Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu:
Agustine Nurhayati, M.Pd.

Oleh:
Sururun Marfu’ah (13711014)
Universitas
Muhammadiyah Gresik
Fakultas
Psikologi
2014
Kata Pengantar
Puji dan Syukur kami
panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan
Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar,
serta tepat pada waktunya. Dalam karya ilmiah ini kami akan membahas mengenai
“Pola Asuh Orang tua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak”.
Karya Ilmiah ini telah dibuat
dengan berbagai literatur dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk
membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini.
Oleh karena itu, persepsi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih
banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu penulis
mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun
penulis. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.
Gresik, 5 Januari 2014
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar .............................................................................................
2
Daftar Isi .........................................................................................................
3
Bab I Pendahuluan .............................................................................................
4
1.1
Latar Belakang .................................................................................
4
1.2
Rumusan Masalah .................................................................................
4
1.3
Tujuan .............................................................................................
4
Bab II Pembahasan .............................................................................................
5
2.1
Pengertian Kepribadian .....................................................................
5
2.2
Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak ..................... 6
2.3
Pengertian Pola Asuh .....................................................................
8
2.4
Macam-macam Pola Asuh .........................................................
9
2.5
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak ....... 10
Bab III Penutup ...........................................................................................
15
3.1
Kesimpulan ...............................................................................
15
3.2
Saran ...........................................................................................
15
Daftar Pustaka ...........................................................................................
16
Bab I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Setiap
orang tua pasti menginginkan anaknya sukses dikemudian hari, baik dalam
pendidikan, keluarga, dan ekonominya. Dan salah satu hal terpenting yang
diinginkan oleh orang tua adalah keberhasilan kepribadiannya, oleh sebab itu
mendidik anak dengan sebaik-baiknya diperlukan untuk membentuk pribadi anak
yang baik. Seperti yang dikatakan Robert Fulghum “Jangan mengkuatirkan
bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu
mengamati Anda”.
Pendidikan dalam keluarga yang baik
dan benar, akan berpengaruh dalam pembentukan pribadi anak. Kebutuhan yang
diberikan melalui pola asuh orang tua akan memberikan kesempatan pada sianak
untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan sekitar.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
kepribadian itu?
2.
Apa peran
keluarga dalam pembentukan kepribadian anak?
3.
Apa pengertian
dari pola asuh?
4.
Apa saja
macam-macam pola pengasuhan itu?
5.
Bagaimana
pengaruh pola asuh terhadap pembentukan kepribadian anak?
1.3
Tujuan
Untuk
mendeskripsikan pengaruh pola asuh terhadap kepribadian anak, dan untuk mengetahui
cara terbaik dalam mengasuh anak agar menjadi pribadi yang baik.
Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian
Kepribadian
Kata kepribadian berasal dari kata Personallity yang berasal dari kata Persona yang berarti kedok atau topeng.
Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang
maksudnya untuk menggambarkan perilaku, pribadi, atau watak seseorang. Hal itu
dilakukan karena terdapat ciri-ciri khas yang hanya dimiliki oleh orang
tersebut baik dalam arti kepribadian yang baik, maupun yang kurang baik.
Misalnya, jika menggambar watak yang kurang baik, kasar, serakah dan yang
lainnya dengan menggunakan gambar setan, sedangkan jika menggambarkan watak yang
baik, suka menolong, berani berkorban, dan sebagainya menggunakan gambar
ksatria.
Sementara ada pendapat bahwa sebenarnya
manusia itu didalam kehidupan sehari-hari tidak selalu membawakan dirinya
sebagaimana adanya, melainkan selalu menggunakan tutup muka, atau ciri-ciri
khas yang supaya tindakannya bisa diterima oleh masyarakat.
Didalam kehidupan sehari-hari ditengah
masyarakat, kebanyakan orang hanya akan menunjukkan keadaan yang baik-baik saja
dan untuk itu maka dipakailah topeng atau persona itu. Dengan topeng itu
kadang-kadang orang akan mendapatkan kedudukan, penghasilan, prestise yang
lebih daripada bila tanpa topeng tsb. Sekalipun ia terpaksa harus bertindak,
berbicara, atau berbuat yang bukan saja tidak sesuai dengan dirinya sendiri,
melainkan kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan hakekat kepribadiannya
sendiri.
Dalam masalah ini G.W. Allport,
berpendapat:
Personality is the dynamic organization
within the individual of those psychopsysical system, that determines his
unique adjusment to his environment. Artinya, Personality itu adalah suatu
organisasi psikophysis yang dinamis daripada seseorang yang menyebabkan ia
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
May, berpendapat:
Personality is a social stimulus value.
Artinya, Personality itu merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi bagaimana
cara orang lain itubereaksi terhadap kita, itulah kepribadian kita.
Dalam hal ini M. Prince berpendapat:
Personality is the sum total of all the
biological innatedisposition, impulses, tendencies, appetites, instinct of
individual and the acquired dispositions and tendecies acquired by experience. Menurut
Prince, disamping disposisi yang dibawa sejak lahir, berperan pula disposisi-disposisi
psikis lainnya yang diperoleh dari pengalaman.
Dari pendapat-pendapat tsb. Akhirnya
dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a.
Personality itu
merupakan suatu kebulatan.
b.
Kebulatan itu
bersifat kompleks.
c.
Kompleksnya itu
disebabkan oleh karena banyaknya faktor-faktor luar yang ikut menentukan
kepribadian itu.
Dengan keterangan diatas, maka
kepribadian dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kepribadian adalah suatu totalitas
psikophisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak didalam tingkah
lakunya yang unik.
2.2 Peran
Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak
Keluarga, yang menghadirkan anak kedunia
ini, secara kodrat bertugas mendidik anak itu. Seluruh isi keluarga itu yang
mula-mula mengisi pribadi sianak. Orang tua dengan secara tidak direncanakan menanamkan
kebiasaan-kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang dan pengaruh-pengaruh lain
yang diterimanya dari masyarakat. Si anak menerima dengan daya peniruannya,
dengan segala senang hati, sekalipun kadang-kadang ia tidak menyadari benar apa
maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan itu, kebiasaan-kebiasaan
tertentu, yang diinginkan untuk dapat dilakukan anak, ditanamkan benar-benar,
sehingga seakan-akan tidak boleh tidak dilakukan oleh sianak. Dengan demikian
sianak akan membawa kemanapun juga pengaruh keluarga itu, sekalipun ia sudah
mulai berpikir lebih jauh lagi. Makin besar sianak, pengaruh itu makin luas
sampai akhirnya seluruh lingkungan hidupnya, apakah itu daerah pantai,
pegunungan, lembah, ataupun hutan, akan mempengaruh seluruh kehidupan dan
perilaku anak itu. Pengaruh itu tidak akan dapat hilang begitu saja, sekalipun
pada waktu besarnya sianak telah meninggalkan lingkungan itu dan hidup di
lingkungan yang lain.
Didalam hal ini, tentu peran ayah dan
ibu sangat menentukan, justru mereka berdualah yang memegang tanggung jawab
seluruh keluarga. Merekalah yang menentukan kemana keluarga itu akan dibawa,
warna apa yang harus diberikan kepada keluarga itu, isi apa yang akan diberikan
kedalam keluarga itu. Anak-anak sebelum dapat bertanggung jawab sendiri, masih
sangat menggantungkan diri, masih meminta isi, bekal, cara bertindak terhadap
sesuatu, cara berpikir, dan lain sebainya dari orang tua. Kebanyakan mereka
meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. dengan demikian maka
jelaslah betapa mutlaknya kedua orang tua itu harus bertindak sela-sekata,
seazas, setujuan, seirama, dan bersam-sama terhadap anaknya. Perbedaan sedikit
saja akan membuat sianak akan selalu ragu-ragu. Tetapi oleh karena ayah pada
umumnya tidak lebih banyak berkumpul dengan anak-anak, oleh karena kewajibannya
untuk mencari nafkah bagi keluarga, maka yang paling dekat dan punya banyak
waktu dengan anak-anak adalah ibu. Si ibu yang mengandung, melahirkan,
memberikan asi, si ibu yang mengasuh hampir setiap detik. Sepatutnyalah bahwa
sebagian besar hidup anak itu bergantung kepada si ibu. Inilah sebabnya mengapa
dikatan surga ada dibawahtelapak kaki ibu, yang artinya sebagian dari perilaku
sianak adalah ditentukan oleh contoh dan perilakusi ibu.
Inilah mengapa orang jawa mengatakan
bahwa: kacang, mangsa tinggala lanjaran. Yang artinya, tidak mungkin seorang
anak tidak melakukan apa yang sejak kecil di contohkan oleh orangtuanya.
Demikian pula mengapa bangsa inggris
mengatakan: you can take of thr country, but you can’t take the country out of
the boy. Yang artinya, anak dapat lepas dari daerah kelahirannya tetapi daerah
itu tidak akan dapat lepas dari sianak itu.
Sekalipun dalam perkembangannya, seorang
anak dapat menyimpan pengaruh desa atau perilaku sesuatu daerah misalnya, namun
pada saat-saat tertentu secara kurang disadari pengaruh daerah itu akan muncul
dalam bentuk perbuatan ataupun dalam kata-katanya. Hal ini bukan berarti bahwa
daerah itu selalu lebih baik daripada daerah yang lain.
Jadi dengan demikian dapat disadari
betapa pentingnya peranan keluarga sebagai peletak dasar pola pembentukan
kepribadian anak tersebut. Sedangkan lembaga pendidikan yang memberikan isi
saja, untuk selanjutnya akan ditentukan sendiri bentuk dan warnanya oleh anak
itu sendiri. Sesuai dengan kemampuan, kekuatan, dan kreasi sianak itu dalam
pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lanjut.
2.3 Pengertian
Pola Asuh
Secara etimologi, pola berarti bentuk,
tata cara, sedangkan asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik. Sehingga pola
asuh berarti bentuk atau system dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika
ditinjau dari terminologi, pola asuh anak adalah suatu pola atau system yang
diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat
relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh
anak dari segi negatif atau positif.
Pengertian pola asuh dalam
keluarga dapat ditelusuri dari pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK
Pusat (1995), yakni usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik
jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun).
Sugihartono
dkk, (2007) mengatakan bahwa pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan
pada anak dan bersifat konsisten dari waktu kewaktu. Pola asuh yang diterapkan
tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Pola perilaku ini dapat
dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif. Pola asuh juga dapat
memberi perlindungan, dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari.
2.4
Macam-macam Pola Asuh
a. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh
demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi
tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap
rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran.
Orang tua tipe ini juga bersikap realistik terhadap kemampuan anak, tidak
berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Selain itu, orang tua
memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan
pendekatannya kepada anak bersifat hangat. Hak dan kewajiban orang tua dan anak
adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak dilatih untuk bertanggung jawab,
dan menentukan perilakunya sendri agar dapat berdisiplin.
b. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan
standar yang mutlak harus dituruti, biasanya diikuti dengan ancaman-ancaman.
Orang tua tipe ini bersikap tegas, memaksa, memerintah, menghukum dan cenderung
mengekang keinginan anak. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh
anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta
menghormati orang-tua yang telah membesarkannya. Apabila anak tidak mau
melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak
segan menghukum anak. Terlebih lagi orang tua tipe ini tidak mengenal kompromi
dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Hal ini dapat menyebabkan
anak kurang inisiatif, cenderung ragu, dan mudah gugup. Oleh karena itu, anak
yang sering mendapatkan hukuman menjadi tidak disiplin dan nakal.
c. Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola
mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Orang tua memberikan kebebasan sebanyak
mungkin pada anak untuk mengatur dirinya. Biasanya pola pengasuhan anak oleh
orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan,
kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak
dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja. Anak yang
diasuh orang tuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi
anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki
kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang
menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah
dewasa.
2.5 Pengaruh
Pola Asuh Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Anak prasekolah belajar dengan cara
berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi dan menjadi teman
baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, prefensi pribadi dan beberapa
kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi
mereka. Anak prasekolah belajar banyak
dari perilaku orang-orang disekitar mereka. Keluarga adalah kelompok sosial
pertama dengan siapa anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan
waktunya dengan kelompok keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya.
Anggota keluarga merupakan orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.
Beberapa pengaruh pola asuh orang tua
terhadap pembentukan kepribadian anak:
a. Pengaruh Pola
Asuh Orang Tua yang Bekerja dan yang Tidak Bekerja terhadap Pembentukan
Kepribadian Anak
Sikap, kebiasaan dan pola perilaku yang dibentuk
selama tahun pertama, sangat menentukan seberapa jauh individu-individu
berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua.
Kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya dasar-dasar yang diberikan orang tua
pada anaknya pada masa kanak-kanak. Dasar-dasar tersebutlah yang akan dibawa
sampai masa tua.
Tidak dapat dipungkiri kesempatan pertama bagi anak
untuk mengenal dunia sosialnya adalah dalam keluarga. Di dalam keluarga untuk
pertama kalinya anak mengenal aturan tentang apa yang baik dan tidak baik. Oleh
karena itu, orang tua harus bisa memberikan pendidikan dasar yang baik kepada
anak-anaknya agar nantinya bisa berkembang dengan baik.
Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang adalah
berkurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya karena keduanya sama-sama
bekerja. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya interaksi orang tua dengan
anaknya. Keadaan ini biasanya terjadi pada keluarga-keluarga muda yang semuanya
bekerja.
Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih
sayang dari orang tua karena keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya
masing masing. Sedangkan anak pada usia ini sangat mambutuhkan perhatian lebih
dari orang tua terutama untuk perkembangan kepribadian. Anak yang ditinggal
orang tuanya dan hanya tinggal dengan seorang pengasuh yang dibayar orang tua
untuk menjaga dan mengasuh, belum tentu anak mendapatkan pengasuhan yang baik
sesuai perkembangannya dari seorang pengasuh.
Anak yang ditinggal kedua orang tuanya bekerja
cenderung bersifat manja. Biasanya orang tua akan merasa bersalah terhadap anak
karena telah meninggalkan anak seharian. Sehingga orang tua akan menuruti semua
permintaan anak untuk menebus kesalahanya tersebut tanpa berfikir lebih lanjut
permintaan anak baik atau tidak untuk perkembangan kepribadiaan anak
selanjutnya. Kurangnya perhatiaan dari orang tua akan mengakibatkan anak
mencari perhatian dari luar, baik dilingkungan sekolah dengan teman sebaya
ataupun dengan orang tua pada saat mereka di rumah. Anak suka mengganggu
temannya ketika bermain, membuat keributan di rumah dan melakukan hal-hal yang
terkadang membuat kesal orang lain. Semua perlakuan anak tersebut dilakukan
hanya untuk menarik perhatian orang lain karena kurangnya perhatian dari orang
tua.
Sedangkan orang tua yang tidak
bekerja di luar rumah akan lebih fokus pada pengasuhan anak dan pekerjaan rumah
lainnya. Anak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan anak menjadi kurang mandiri, karena
terbiasa dengan orang tua. Segala yang dilakukan anak selalu dengan pangawasan
orang tua. Oleh karena itu, orang tua yang tidak bekerja sebaiknya juga tidak
terlalu over protektif. Sehingga anak mampu untuk bersikap mandiri.
b. Pengaruh Pola
Asuh Orang Tua yang Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah Terhadap
Pembentukan Kepribadian Anak
Latar belakang pendidikan orang tua mempunyai pengaruh
yang besar terhadap pembentukan kepribadian anak. Orang tua yang mempunyai
latar belakang pendidikan yang tingi akan lebih memperhatikan segala perubahan
dan setiap perkembangan yang terjadi pada anaknya. Orang tua yang berpendidikan
tinggi umumnya mengetahui bagaimana tingkat perkembangan anak dan bagaimana
pengasuhan orang tua yang baik sesuai dengan perkembangan anak khususnya untuk
pembentukan kepribadian yang baik bagi anak. Orang tua yang berpendidikan
tinggi umumnya dapat mengajarkan sopan santun kepada orang lain, baik dalam
berbicara ataupun dalam hal lain.
Berbeda dengan orang tua yang mempunyai latar belakang
pendidikan yang rendah. Dalam pengasuhan anak umumnya orang tua kurang
memperhatikan tingkat perkembangan anak. Hal ini dikarenakan orang tua yang
masih awam dan tidak mengetahui tingkat perkembangan anak. Bagaimana anaknya
berkembang dan dalam tahap apa anak pada saat itu. Orang tua biasanya mengasuh
anak dengan gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang menurut mereka baik untuk
anaknya. Anak dengan pola asuh orang tua yang seperti ini akan membentuk suatu
kepribadian yang kurang baik.
c. Pengaruh Pola
Asuh Orang Tua dengan Tingkat Ekonomi Menengah Keatas dan Menengah Kebawah
Permasalahan ekonomi dalam keluarga
merupakan masalah yang sering dihadapi. Tanpa disadari bahwa permasalahan
ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada anak. Orang tua terkadang
melampiaskan kekesalan dalam menghadapi permasalahan pada anak. Anak usia prasekolah
yang belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga hanya akan
menjadi korban dari orang tua.
Dalam pola asuh yang diberikan oleh
orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah keatas dan orang tua yang
tingkat perekonomiannya menengah kebawah berbeda. Orang tua yang tingkat
perekonominnya menengah keatas dalam pengasuhannya biasanya orang tua memanjakan
anaknya. Apapun yang diinginkan oleh anak akan dipenuhi orang tua. Segala
kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan kekayaan yang dimiliki orang tua.
Pengasuhan anak sebagian besar hanya sebatas dengan materi. Perhatian dan kasih
sayang orang tua diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anak.
Anak yang terbiasa dengan pola asuh
yang demikian, maka akan membentuk suatu kepribadian yang manja, serba menilai
sesuatu dengan materi dan tidak menutup kemungkinan anak akan sombong dengan
kekayaan yang dimiliki orang tua serta kurang menghormati orang yang lebih
rendah darinya.
Sedangkan pada orang tua yang
tingkat perekonomiannya menengah kebawah dalam cara pengasuhannya memang kurang
dapat memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi. Orang tua hanya dapat
memenuhi kebutuhan anak yang benar-benar penting bagi anak. Perhatian dan kasih
sayang orang tualah yang dapat diberikan.
Anak yang hidup dalam perekonomian
menengah kebawah terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami keluarga.
Sehingga akan terbentuk kepribadian anak yang mandiri, mampu menyelesaikan
permasalahan dan tidak mudah stres dalam menghadapi suatu permasalahan.dan anak
dapat menghargai usaha orang lain.
Pada kenyataannya terdapat juga anak
yang minder dengan keadaan ekonomi orang tua yang kurang. Oleh karena itu,
peran orang tua dalam hal ini sangat penting. Orang tua harus menyeimbangkan
dengan pendidikan agama pada anak. Sehingga anak mampu mensyukuri segala yang
telah diberikan oleh sang Pencipta.
Bab III
Penutup
3.1
Kesimpulan
Keluarga, yang menghadirkan anak kedunia
ini, secara kodrat bertugas mendidik anak itu. Seluruh isi keluarga itu yang
mula-mula mengisi pribadi sianak. Orang tua dengan secara tidak direncanakan
menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang dan
pengaruh-pengaruh lain yang diterimanya dari masyarakat. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa
anak diidentifikasikan, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok
keluarga daripada dengan kelompok sosial lainnya. Anggota keluarga merupakan
orang yang paling berarti dalam kehidupan anak.
3.2 Saran
Untuk dapat membentuk pribadi anak yang baik, maka pola pengasuhan serta
pendidikan yang diberikan harus yang terbaik. Sehingga akan terbentuk anak
dengan pribadi yang baik serta berkualitas.
Daftar Pustaka
Sujanto, Agus dkk. 2004. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar